Ungkapan Perasaan Siti Nurbaya 2010.
Mungkin anda tak asing dengan nama Siti Nurbaya, hampir semua kritikus sastra Indonesia menempatkan novel Siti Nurbaya sebagai karya penting dalam kesusastraan Indonesia . Novel ini pula yang pertama kali menampilkan masalah perkawinan dalam hubungannya dengan persoalan adat, yang kemudian banyak diikuti oleh pengarang-pengarang sesudahnya. Namun dalam tulisan ini tidak akan dibahasa tentang cara sang datuk Meringgih untuk mendapatkan sang Siti Nurbaya, takkan ada cerita tentang usaha Samsulbahri memperjuangkan Siti Nurbaya dari sang Datuk. Cerita di bawah ini adalah curahan hati seorang Siti Nurbaya di jaman sekarang, Ungkapan Perasaan Siti Nurbaya modern.
bapak, ibu….saya sadar bahkan sangat yakin bahwa kalian ingin melihat anak-anaknya bahagia bahkan lebih bahagia dari kalian, dan saya pun tau bahwa kalian akan melakukan apa saja untuk anak kalian. untuk memberikan senyum pada anak kalian.
bapak, ibu….sekarang anakmu ini tlah tumbuh dewasa, tak seperti anak kecil yang dulu kalian timang dan manjakan, tapi tetaplah seorang anak yang selalu membutuhkan didikan dari kalian.waktu tlah membawa saya menyusuri satu persatu tautan cerita dan perjalanan, sebuah proses yang membawa saya dalam sebuah alur pendewasaan diri. sekarang saya harus mampu untuk memilih sendiri tiap pilihan dalam hidup saya, tak lagi seperti dulu yang harus selalu dipilihkan oleh kalian. tapi saya akan tetap meminta saran dan pertimbangan dari kalian.
bapak, ibu…saya tak ingin berbasa-basi terlalu lama. saya tak mau kalian terlanjur jengah membaca coretan ini sebelum pada intinya
bapak. ibu…masih ingatkah kalian sosok yang saya kenalkan pada kalian? sosok yang saya kenalkan sebagai kekasih saya waktu itu? pastilah kalian ingat, karena tak hanya sekali kalian bertemu. bapak, ibu….sekarang saya tlah berpisah dengannya, demi kalian.
sejujurnya, kami punya rencana yang begitu indah meskipun belum terlalu matang kami memikirkannnya. tapi kami sangat ingin memenuhi impian kami itu.kami saling menyayangi, dan kami pun tlah mampu untuk saling mengisi dan menerima apa yang ada pada diri pasangan kami. saya mengerti dan menerima dia apa adanya, begitu juga dia pada saya.
tapi, kenapa setelah kami mengutarakan niat kami pada kalian, kami malah harus berpisah??? kenapa kalian memisahkan kami karena kalian tak menyukainya??? padahal sudah bertahun-tahun kami menjalani proses ini. bertahun-tahun pula kami jatuh bangun menjaga hubungan ini dan belajar untuk saling mengerti dan menerima satu sama lain
kenapa baru sekarang kalian mengatakan ketidaksetujuan kalian padanya??? kenapa ketika dia tlah datang meminangku, kalian tidak mengizinkan kami bersama??? kenapa kalian tak mengizinkan kami menyempurnakan separuh agama kami??? kenapa kami harus mengalami luka ini dengan alasan yang tak pernah masuk logikaku. sebuah alasan tentang keadaan yang pasti akan berubah suatu saat nanti. tak melihatkah kalian kebahagiaan kami yang satu ini???
proses kami tak semulus yang ada di sebuah dongeng, kami terseok-seok menjalani hubungan ini dan kami bertahan karena rasa yang ada di hati kami dan karena selama ini kami tak pernah melihat ataupun mendengar ketidaksetujuan kalian akan hubungan ini, sampai tiba akhirnya kami mempunyai rencana untuk hidup kami dan barulah kami tau ada ketidaksetujuan itu dari kalian. kenapa??? kenapa baru sekarang??? kenapa tak sedari dulu?? sehingga rasa sayang dan cinta yang tertanam di hati kami belum sesubur ini
bapak, ibu, kami sangat menghormati kalian. karena kalianlah, kami bisa menjadi seperti ini sekarang. bapak, ibu…inilah keputusan yang kami buat, menenggelamkan rakit yang tlah kami buat dan mengubur impian kami yang ingin menjadikan rakit itu menjadi sebuah kapal yang mewah, hanya demi kalian. sayapun sadar dan tau, bahwa apa yang tlah kami putuskan untuk kami ini tak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang tlah kalian berikan dan lakukan pada kami dari dulu sampai sekarang bahkan kelak untuk hidup kami. meskipun berat, meskipun tak sepenuhnya kami ikhlas, tapi saya yakin, waktu akan membuat hati ini ikhlas menerimanya.
bapak, ibu…kini hubunganku dengannya tak seindah dulu, tak sehangat dulu lagi. kini kami bagai 2 orang asing di dua kutub yang berbeda. kini aku tak pernah tau keberadaannya, keadaannya, semua tentangnya. kamipun sudah tak mampu lagi untuk saling menyapa bahkan memandang. kini hubungan kami berbeda, sangat berbeda dari dulu ketika kami bersama. dia menjauh, pergi berlalu dan mungkin akan selamanya menghilang dari hidup saya.
yang saya tau, kini dia tlah memilih kebahagiaannya sendiri. memilih orang lain yang akan dijadikannya partner untuk membangun sebuah kapal yang sempat kami impikan dulu. sedangkan saya, saya masih terdiam disini, masih meratapi keadaan saya dan masih terus bertanya kenapa saya masih merasakan luka ini. kalian pasti tau rasanya kehilangan
bapak, ibu, maafkan kata-kata saya. maafkan tulisan saya yang terkesan menghujat dan tak mau mengalah. maafkan ketidakmengertian saya akan keputusan kalian. maafkan saya…..
mungkin, sampai saat ini saya belum bisa menerima keputusan kalian dan alasan kalian juga keputusan yang telah saya dan dia ambil. tapi ada keyakinan di hati saya, bahkan saya yakin sekali, bahwa waktulah nanti yang akan membawa saya untuk mengerti semua alasan penolakan kalian. saya pun percaya, apapun keputusan kalian adalah untuk kebahagiaan kami. mungkin inilah proses pendewasaan bagi saya
terimakasih tlah sudi membaca coretan ini, terimakasih tlah memberi waktu dan kesempatan untuk kami saling belajar memahami dan menerima orang lain apa adanya, untuk mengenalkan kami dan membuat kami mengerti dan memahani bagaimana dan apa arti mencintai, dicintai, ketulusan, kesabaran dan keikhlasan
maafkan saya sekali lagi untuk kelancangan ini. semoga lewat tulisan ini, kalian mengerti isi hati saya sejujurnya. terimakasih untuk semuanya dan maafkan saya

Comments :
0 komentar to “SITI NURBAYA 2010”
Post a Comment